Ternyata Garam, Emas, dan Perak Sangat Populer di Masanya, benarkah?

Salt atau salarium merupakan asal mula istilah salary (gaji).

Berbagai benda yang sudah kita sebutkan di bagian terdahulu (klik tautan postingan sebelumnya) pernah berjaya di masanya. Ambil contoh misalnya garam. Konon, orang-orang di zaman dahulu mengenal garam tidak hanya sebagai bumbu masakan. Mereka menggunakan garam—yang biasa dipakai sebagai peng-asin makanan ini—juga sebagai alat tukar. Tak percaya? Sekarang saya tanya, apa bahasa Inggris-nya “garam”? “Salt dong,” jawab Anda. Kalau bahasa Inggris “gaji”? Salary.

Nah, itu dia, salary berasal dari kata salarium (dari bahasa Latin) yang disebut juga salt dalam bahasa Inggris tadi.

Adalah suatu kebiasaan bagi penduduk Romawi Kuno menerima upah dalam bentuk salarium (garam). Bahkan, dalam sejarahnya, para tentara Romawi Kuno pun digaji dengan garam. Saking lumrahnya garam sebagai upah atas hasil jerih payah mereka bekerja, sampai-sampai istilah salarium melekat untuk menyebut upah itu sendiri. (Kita pun sudah biasa menyebut merk tertentu untuk maksud yang umum, misalkan “Beli Sanyo” padahal maksudnya “Beli mesin air”). Begitulah kira-kira perlakuan orang-orang di kala itu dengan garam yang sudah tak bisa dipisahkan dengan istilah “upah” atau “gaji” itu sendiri.Mungkin ini sulit dipercaya, tetapi begitulah adanya.

Namun, selain garam dan berbagai benda lainnya, emas (dan perak) adalah alat tukar terbaik sepanjang sejarah. Keduanya, terutama emas, telah digunakan sejak 5.000 tahun yang lalu oleh masyarakat Mesir Kuno. Ketika itu bentuknya memang belum sempurna, masih berupa bongkahan tak beraturan.

Dalam perkembangan selanjutnya emas dan perak adalah pilihan istimewa yang digunakan manusia sebagai alat tukar, alias uang sekaligus mata uang. Imperium Romawi mengenal koin emas dengan salah satunya dengan sebutan solidos. Sementara Persia lebih terkenal dengan koin drachma perak-nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika masih muda dan sering berdagang, telah mengenal berbagai macam koin emas dan perak dari berbagai penjuru dunia. Beliau pun juga menggunakannya.

Di dalam Islam, apa-apa yang sudah ada sebelum kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Beliau tidak melarangnya, malah menggunakannya, berarti menjadi bagian dari Islam itu sendiri. Orang Arab kala itu lebih mengenal koin emas dengan sebutan Dinar, sebagaimana koin perak yang disebut Dirham. Kedua  jenis uang ini—yang esensinya adalah emas dan perak, walaupun dengan berbagai bentuk, nama, dan spesifikasi yang berbeda-beda—tetap digunakan di seluruh dunia, baik Islam maupun non-Islam, hingga para bankir menggantinya secara paksa dengan mata uang kertas.

Meskipun tidak ada catatan sejarah adanya pencetakan Dinar dan Dirham di masa—dan oleh—Baginda Nabi, namun Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan ketentuan tersendiri tentang timbangan dan takaran uang logam ini. Ketetapan untuk satu koin Dinar emas adalah setara dengan satu mitsqal atau dalam timbangan modern seberat 4,25 gram. Sedangkan Dirham perak memiliki berat 7/10 dari berat Dinar, sehingga satu Dirham adalah koin perak 2,975 gram.

Penjelasan mengenai uang, khususnya sejarah uang dari zaman barter, uang bimetal, hingga kini menjadi sekedar mata uang fiat secara lengkap dibahas dalam buku tersendiri, berjudul Kertas atau Emas? Rahasia tentang Uang Sejati yang Tidak Pernah Diajarkan di Bangku Sekolah Formal.

Demikian. Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam muamalah!

Leave a comment

Your email address will not be published.