LEBIH LUAS DARI EKONOMI, KOK BISA? (Testimoni Buku Kertas atau Emas?)

Testimoni salah seorang pembaca buku Kertas atau Emas?

Islam memang tidak mengenal Ilmu Ekonomi bahkan “tidak perlu” ekonomi, sebab Islam punya seperangkat aturan yang lebih lengkap, lebih komplit, dan bahkan lebih keren dari sekedar ilmu ekonomi. Islam punya MUAMALAT.

Dalam Muamalah, yang diatur bukan hanya soal produksi, distribusi dan konsumsi ala Ilmu Ekonomi. Muamalah mengatur seluruh urusan manusia dengan sesamanya. Khusus terkait “ekonomi” tadi, Islam tentunya juga membatasi soal halal-haram dan riba.

Jika ekonomi berprinsip untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, maka Muamalah berbicara soal dosa atau pahala, ridha atau murka Allah, halal ataukah haram.

Salah satu aplikasi “jahat” dari prinsip ekonomi adalah penerapan mata uang fiat. Dengan bahan & modal cetak yg sangat kecil, kertas yang semula hanyalah lembaran-lembaran tak berharga menjadi (dipaksa) bernilai puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali lipat. Bahkan kini tanpa modal secara fisik lagi, atas nama kemajuan zaman, cukup dengan kedipan layar elektronik jadilah mata uang digital.

Sedangkan Islam mewajibkan pertukaran yang adil (fair trade). ‘Ayn (harta riil) dibalas barang atau jasa riil pula. Maka Islam mengenal Dinar (uang emas), Dirham (uang perak) dan Fulus (uang tembaga) sebagai media pertukaran untuk barang atau jasa. Adil, lagi halal. Oleh karenanya kita tidak mengenal inflasi atau depresiasi pada Dinar dan Dirham. Ribuan tahun telah terbukti perkasa.

Selengkapnya dibahas di buku KERTAS ATAU EMAS?

Ikuti KulWA (kuliah WhatsApp) bedah buku ini!

Hubungi koordinator wilayah masing-masing. Cek di sini: https://www.facebook.com/groups/1305377146220873/permalink/3140799489345287/

Leave a comment

Your email address will not be published.