Pernah dengar istilah “Ayat Seribu Dinar”?

“Wa man yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrojan, Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu,Wa man yatawakkal’alallaahi fahuwa hasbuhuu,Innallaaha baalighu amrihii,Qad ja’alallaahu likulli syai in qadran.” (QS.ATH-THALAQ: 2-3)

Artinya: “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya Rizki dari arah yang tidak dia duga. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia mencukupinya. Sesungguhnya Allah akan mencapai urusanNya, sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu ketentuan.”

Bagian akhir ayat 2 dan seluruh ayat 3 dalam Qur’an surat At Thalaq ini konon memiliki khasiat bila sering dibaca akan memudahkan kita menjemput rezeki. Hal ini harus diyakini dengan penuh keimanan oleh setiap muslim, di samping tentunya, dibarengi dengan kerja dan usaha nyata. (Masa cuma baca ayat saja, trus “sim salabim” rezeki datang. 🤭😁).

Tapi pernahkah Anda bertanya, mengapa ayat di atas dinamakan “Ayat Seribu Dinar”? Mengapa misalnya tidak diganti saja dengan “Ayat Seribu Rupiah” kek, biar lebih termotivasi sebab rupiah kan mata uang NKRI, yang katanya NKRI harga mati? 😅 Atau ganti saja dengan “Ayat Seribu Dolar” gitu loh, biar lebih modern? Atau juga “Seribu Ringgit, Seribu Rupee, Seribu Poundsterling, Seribu Euro,” dan sebagainya? 😁 Why? Dan why not?

Jawabannya, setidaknya ada 2 (dua). Pertama, dari dulu saat ayat ini diturunkan, dunia Islam mengenal Dinar (koin emas) sebagai mata uang yang bernilai BESAR. Sedangkan yang nilainya menengah dan kecil, berturut-turut disebut Dirham (koin perak) dan Fulus (koin tembaga). Nilai seribu Dinar (1.000 koin Dinar) saat itu sangat tinggi. Kira-kira setara 1.000 hingga 2.000 ekor kambing (atau benda apapun yang setara dengan 1.000-2.000 ekor kambing). Dan jumlah ini sudah cukup untuk menyebut seseorang kaya jika memilikinya.

Kedua, nilai 1.000 Dinar insya Allah akan tetap terjaga (baca: dijamin Allah hingga hari kiamat) alias stabil. Jika dulu 1.000 Dinar bisa membeli segitu banyak benda yang kita sebutkan tadi, hari ini pun tetap saja bernilai demikian. Sebagai perbandingan dengan rupiah, jika saat ini 1 Dinar (koin emas 4,25 gram 22 karat sesuai sunnah) bernilai kira-kira Rp.4.200.000, maka 1.000 Dinar setara dengan Rp.4.200.000.000 alias 4,2 milyar rupiah. Masih lumayan kayalah ya, ngga kaya kita-kita maksudnya. 🤭🤣

Sedangkan nilai “Seribu Rupiah” selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu.

✅ Jika masa remaja Anda mengidolakan Rano Karno (tahun 70-80’an), maka Rp.1.000 sudah bisa buat jajan mungkin 1 bulan.

✅ Jika Anda adalah generasi Wiro Sableng, Power Rangers, atau Doraemon dan Nobita, jajan seribu rupiah waktu SD mungkin bisa dihemat selama satu minggu.

✅ Namun akan lain cerita jika masa kanak-kanak atau remaja Anda hobinya main Tik-Tok atau Mobile Legend. Jangan coba-coba bawa duit jajan Rp.1.000 ke warung. Kalau pun maksa juga, paling cuma dapat 4 biji permen unyu-unyu. 😂

Faktanya, nilai seribu Dinar tetap stabil dari dulu hingga sekarang, sehingga harga barang dan jasa yang ditakar dengannya tetap sama, bahkan nilai 1 Dinar hari ini bisa membeli lebih banyak barang dibanding 10 tahun lalu. Sedangkan nilai mata uang fiat (rupiah, dolar, dsb) terus berkurang, menyebabkan harga barang dan jasa selalu mengalami inflasi (kenaikan harga yang terus-menerus).

Biaya hidup stabil dengan Dinar dan Dirham

Nah, sekarang sudah tahu perbedaan seribu Dinar vs seribu rupiah kan? 😊

Terima kasih sudah membaca. Jika ini bermanfaat, silakan Share ke teman-temanmu. Dan jika mau penjelasan lengkapnya, silakan baca buku KERTAS ATAU EMAS? Rahasia tentang Uang Sejati yang Tidak Pernah Diajarkan di Bangku Sekolah Formal.

Klik di sini! untuk info lebih lanjut.

Salam muamalah,

Rengky Yasepta

Leave a comment

Your email address will not be published.