Sudah Setua Ini Ternyata Emas Masih Utuh dan Bernilai

Seperti janji saya di artikel sebelum ini (klik di sini), saya akan menguraikan materi dalam e-book saya yang berjudul Why Gold? 7 Alasan Mengapa Anda Harus Melek Emas ke dalam bentuk blog. Ini adalah potongan dari Bab 1 yang bertajuk Emas adalah Uang. Baiklah, kita lanjutkan ya!

Mesir Kuno telah mengenal emas sejak 5.000 tahun lalu (sumber gambar: Pixabay)

Alkisah, di zaman dahulu kala ketika manusia primitif mulai mengenal interaksi antar sesamanya —mulai menyadari bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain dalam artian yang sesungguhnya—mereka  saling menukarkan barang yang mereka miliki satu sama lain.

Ilustrasinya begini:

Misalkan saya punya keahlian membuat pakaian dari kulit binatang, sementara Anda punya keahlian menangkap ikan. Kita mulai menyadari bahwa kita punya keahlian masing-masing. Maka saya mendekati Anda dan berkata, “Hei bro, gimana kalau ikanmu itu gue tukar dengan baju ini? Gue laper nih.”

Barangkali Anda akan berpikir  sejenak, “Iya juga ya…! Aku senang dan ahli menangkap ikan. Dia ahli membuat baju.”

“Oke deh bro. Gue setuju. Tapi loe mau berapa ekor ikan biar setara dengan baju buatan loe?”

Maka Saya jawab, “Lima ekor aja deh bro. Nih gue tukar sama baju dari kulit onta, deal?”

Ketika Anda setuju, maka terjadilah sebuah peristiwa yang lumrah kita sebut barter. Masih ingat ‘kan pelajaran ekonomi waktu SMP dulu?

Barter adalah cikal bakal terciptanya interaksi jual-beli di antara sesama manusia. Namun seiring berjalannya waktu, manusia—lebih tepatnya nenek moyang kita dulu—mulai menyadari bahwa  mereka menemukan sebuah masalah dalam sistem pertukaran ini. Pada saat kita sama-sama cocok ingin menukarkan barang yang masing-masing dimiliki, maka barter lancar-lancar saja. Namun manusia semakin bertambah banyak, dan kebutuhan semakin bervariasi pula satu sama lain.

Kita ibaratkan masih ilustrasi di atas namun dengan sedikit perubahan kondisi. Andaikan Anda ahli menangkap ikan, dan Anda lagi butuh pakaian, sedangkan saya yang biasa membuat pakaian lagi tidak butuh ikan—dengan berbagai alasan, misalnya stok ikan masih banyak, atau karena sedang tidak mood makan ikan, maka untuk kondisi ini tidak bisa terjadi tukar menukar. Singkat cerita, kelemahan barter adalah harus dalam kondisi kedua belah pihak saling menukarkan barang yang sama-sama dibutuhkan oleh kedua belah pihak.

Sudah menjadi hukum alam, bahwa ketika terbentur dengan suatu masalah, maka sesungguhnya manusia sedang “dibimbing” untuk menemukan solusi. Dari solusi tersebut, selain akan menyelesaikan permasalahan yang ada, juga akan menciptakan kemudahan dan penciptaan sesuatu yang baru. Kapok dengan barter, nenek moyang kita akhirnya berpikir bahwa harus ada benda tertentu untuk dipakai sebagai alat tukar. Benda yang dimaksud haruslah dapat diterima secara umum—setidaknya dalam jangkauan interaksi sesama mereka.

Tercetuslah ide untuk menggunakan suatu benda sebagai alat tukar. Tercatat dalam sejarah, ada beberapa benda yang pernah dijadikan sebagai alat tukar, antara lain kerang, batu—mungkin ini adalah cikal bakal batu akik, kulit kayu, kulit binatang, garam, emas dan perak, serta tembaga.

Dari sini dapat kita pahami bahwa emas adalah salah satu uang paling lama yang masih exist bahkan hingga hari ini. Konon menurut sejarawan—yang secara panjang lebar dibahas pula pada Bab 2 Dari Uang ke Mata Uang buku Kertas atau Emas? Rahasia Tentang Uang Sejati yang Tidak Pernah Diajarkan di Bangku Sekolah Formal—emas dan perak telah mulai dikenal nenek moyang kita sejak tahun 3.000 SM alias sudah exist selama lebih kurang 5.000 tahun. Namun demikian, andaikan emas yang pertama kali ditemukan di Mesir Kuno ini masih ada di tengah-tengah kita hari ini, ia pasti masih utuh dan tetap bernilai sebagaimana emas lainnya. Hal yang akan sangat konyol andaikan pemisalan yang sama kita alamatkan kepada “uang” kertas, apa jadinya wujud dan nilai kertas yang sudah berusia ribuan tahun? Itu pun kalau kertasnya tidak dimakan rayap. ^_^

Info pemesanan buku Kertas atau Emas, klik di sini. Stok terbatas!

Salam muamalah!

3 comments

Leave a comment

Your email address will not be published.